Kenangan Tugas Akhir

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Sekitar sepuluh tahun yang lalu adalah masa-masa ketika saya disibukkan dengan tugas akhir S1. Alhamdulillah, waktu itu saya mendapatkan dosen-dosen pembimbing yang sangat baik yaitu Bu Poppy Intan Tjahaya dan Bu Barti Setiani. Dengan bantuan mereka lah akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas akhir dan lulus dengan selamat dari kampus tercinta.

Persis seperti S2 sekarang, awalnya usulan judul tugas akhir S1 saya ditolak dengan alasan skupnya terlalu kecil. Menghadapi kenyataan tersebut, saya berjalan kaki menyusuri jalan di sekitar kampus, untuk mencari inspirasi sambil melihat ke kanan dan ke kiri.. Kira-kira kantor/hotel/bangunan mana yang bisa saya masuki untuk mendapatkan topik yang memenuhi syarat. Hingga akhirnya saya melihat Kantor Batan.

Dengan memberanikan diri, saya mendatangi pos satpam. Saya sempat kebingungan ketika pak satpam menanyakan siapa yang saya cari. Akhirnya, saya menerangkan kalau saya sedang mencari topik untuk tugas akhir dan bapak itu menyebut sebuah nama seakan-akan saya sudah ditunggu. Saya langsung disuruh masuk dan diantar untuk menemui seorang ibu yang wajahnya serasa familiar. Ternyata beliau adalah dosen salah satu kuliah pilihan yang saya ikuti, Bu Poppy Intan Tjahaya.

Sebenarnya, dari awal saya sudah mencoret ‘penelitian laboratorium’ dari list usulan tugas akhir karena khawatir dengan biayanya. Saya segan jika harus membebani orang tua lagi. Tapi, takdir berkata lain dan akhirnya saya meneliti tentang ‘Faktor Transfer Radionuklida Cs-134 dari Air ke Ikan Mas’. Bukan hanya tanpa biaya, bahkan tiap siang saya mendapat jatah nasi dan sayuran gratis. Alhamdulillah..

Penelitian dilakukan di Batan di bawah bimbingan Bu Poppy. Suami beliau, Pak Putu turut memberikan masukan dan banyak jurnal berbahasa inggris untuk dipelajari. Saya juga sangat terbantu dengan bahan dari Cha-cha (Annisa Anggiana) yang sebelumnya telah mengerjakan topik sejenis. Selain itu, peran Bu Juni sebagai ketua pelaksana juga sangat besar dalam keberhasilan penelitian tersebut.

Saya ingat masa-masa deg-degan ketika berpapasan dengan Bu Barti di kampus karena beliau sering menanyakan bagaimana kemajuan tugas akhir saya. Waktu itu, rasanya sebisa mungkin jangan sampai berpapasan deh, kecuali kalau draft yang seharusnya saya kerjakan sudah selesai. Maklum, waktu itu fokus saya masih suka teralihkan (sekarang pun masih begitu -_- ). Beliau banyak memberikan masukan mengenai penulisan tugas akhir. Setelah draft-draft yang saya susun disetujui oleh Bu Barti, baru kemudian bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Target awal saya saat itu adalah wisuda pada bulan Oktober 2006. Tapi, saat menjelang deadline penyerahan hasil tugas akhir, data konsentrasi Cs-134 yang sudah stabil selama beberapa kali sampling ternyata malah naik lagi. Waktu itu ada dua pilihan, apakah menghentikan penelitian dan menggunakan data sebelum naik dengan asumsi itu penyimpangan, atau dilakukan sampling beberapa minggu ke depan untuk memastikan. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan penelitian dan terbukti bahwa data saat itu memang penyimpangan saja. Konsekuensinya sidang pun mundur, demikian pula wisuda. Takdir ..

Menjelang sidang, Pak Putu meminta saya untuk presentasi di hadapan beliau sebagai latihan. Pertanyaan-pertanyaan juga diajukan dan saya banyak mendapat masukan mengenai cara presentasi yang baik dan tips menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul selama sidang. Alhamdulillah, sidang berjalan lancar dan saya pun berhak menyandang titel sarjana teknik.

Beberapa bulan setelah wisuda, saya kembali ke Padang dan sejak saat itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan nama-nama yang saya ceritakan di atas.

Hingga September 2015, saya mendapat kabar dari salah seorang teman kalau Bu Poppy sedang di RSHS dalam kondisi kritis. Sebelumnya, beliau sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit namun saya selalu berhalangan untuk menjenguk. Saat itu, saya khawatir dan merasa harus segera menemui beliau. Saya berangkat dari Cianjur sambil berusaha menghapal do’a untuk menjenguk orang sakit di sepanjang perjalanan. Ternyata, saat bertemu, hapalan saya lenyap begitu saja. Bahkan, suara pun sulit keluar karena tidak kuat menahan tangis. Akhirnya, saya berhasil menenangkan diri sambil membacakan 3 surat terakhir dalam al qur’an. Tidak banyak kata terucap setelah itu, saya pun segera minta diri kepada keluarga beliau.

Selesai shalat di lantai bawah, sempat terpikir untuk naik lagi ke ruangan beliau, tapi saya urungkan niat karena khawatir mengganggu. Saya pun pulang ke Cianjur. Setelah hampir sampai di tujuan, hp saya hidupkan untuk mengontak suami dan ternyata masuk pesan bahwa Bu Poppy sudah meninggal sekitar waktu saya meninggalkan RS. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…Semoga beliau mendapatkan ampunan dan amal ibadah beliau mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah S.W.T. Aamiin..

I just want to say thank you for all your kindness ..

Fzn

Posted in personal | Leave a comment

Arabisasi Islam?

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Arabisasi Islam. Sepemahaman saya, Arabisasi Islam adalah masuknya budaya-budaya lokal Arab yang tidak berhubungan langsung dengan ajaran agama Islam dan dianggap seakan-akan menjadi bagian dari Agama Islam.

Memang, Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam berasal dari Arab dan Islam pun mulai tersebar dari sana. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati memilah mana yang termasuk ajaran Islam, mana yang hanya merupakan budaya Arab. Ditambah lagi dengan adanya penyesatan opini oleh sebagian kalangan mengenai sejumlah ajaran Islam yang dicitrakan seolah-olah hanya sebagai budaya Arab semata sehingga tidak perlu diikuti. Padahal, ajaran-ajaran tersebut tercantum dengan jelas dalam Al Qur’an maupun Sunnah dan para Imam madzhab pun menyepakatinya.

Budaya Arab tidak perlu diikuti tetapi juga tidak terlarang selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak pula diyakini sebagai bagian dari ajaran Islam, tidak bersifat ritual ibadah, serta lebih besar manfaatnya daripada mudharatnya. Budaya terkait dengan ritual ibadah penyembah berhala tentu saja tidak boleh ditiru. Menyerupai ritual agama Kristen dan Yahudi saja kita dilarang keras apalagi ritual para penyembah berhala. Budaya yang merusak seperti konsumsi ganja, shesha, tarian perut, dan lain-lain juga harus dijauhi.

Di samping itu, budaya di Indonesia pun sangat beragam dan berasal dari berbagai sumber sehingga sulit memisahkan antara budaya yang benar-benar asli Indonesia dan yang merupakan hasil akulturasi budaya luar dengan budaya Indonesia. Hal itu wajar di dalam masyarakat yang majemuk yang terbuka terhadap pengaruh luar.

Yang membingungkan adalah apa bedanya Arabisasi Islam dengan -isasi Islam lainnya, misalnya Indiaisasi/ Hinduisasi/ Iranisasi/ Chinaisasi Islam? Mengapa yang satu tidak boleh sedangkan yang lain wajib dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya nusantara? Apakah itu bukan salah satu bentuk rasisme?

Q49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Penjelasan dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat di atas adalah Allah menyatakan kepada umat manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka SEMUA dari satu orang, ‘Adam, dan dari orang tersebut Dia ciptakan pasangannya, Hawwa’. Dari keturunan mereka Dia buat menjadi berbangsa-bangsa yang terdiri dari bermacam-macam suku dan subsuku dalam berbagai ukuran. Oleh karena itu, seluruh umat manusia sama-sama berbagi kehormatan ini. Perbedaan antara mereka hanyalah dalam hal agama yang berkisar di sekitar ketaatan mereka kepada Allah Yang Agung dan dalam mengikuti Rasulullah s.a.w.

Jika begitu, mengapa masih ada rasisme di kalangan Muslim Indonesia?

Wallahu a’lam

Posted in opini | Tagged , , | Leave a comment

BBM naik!

BBM naik!

Seharian ini, wall facebook saya dibanjiri status-status berkaitan dengan kenaikan harga bbm. Ada yang mendukung, banyak yang menghujat. Kalau saya sih netral saja. Walaupun berharap bbm tidak naik, tetapi kalau naik pun saya merasa tidak ada gunanya menghujat pemerintah yang sudah menyatakan kalau subsidi bbm nya mau dialihkan untuk pembangunan infrastruktur dan untuk masyarakat miskin. Mereka kan sudah bilang begitu, kalau saya keukeuh, jangan-jangan itu hanya bentuk keegoisan saya saja karena (katanya) subsidi bbm hampir 80% nya dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas (seperti saya yang rajin naik angkot), dan hanya sedikit dinikmati masyarakat miskin.

Entah saya yang kurang empati atau bagaimana, saya tidak merasa terlalu ‘tertekan’ dengan kenaikan bbm ini. Memang sih, sepanjang perjalanan ke kantor pagi tadi, saya sibuk memikirkan manajemen keuangan saya agar jangan besar pasak daripada tiang, besar pengeluaran daripada pendapatan. Masyarakat miskin mungkin lebih kesulitan dalam mengatur keuangannya menghadapi kenaikan harga-harga barang saat ini. Semoga saja pemerintah benar-benar memenuhi janjinya mengenai pengalihan subsidi bbm ke orang-orang yang lebih berhak dan kita semua diberi kemudahan dalam menghadapi keadaan ini, aamiin..

Kenyataannya, tidak sedikit yang protes soal kenaikan bbm itu termasuk golongan bermobil seharga ratusan juga. Tentu saja dengan membawa-bawa rakyat kecil. Rakyat kecil yang bingung dengan harga cabe yang seharga daging, padahal seharusnya mereka lebih fokus dengan pemenuhan kebutuhan pangan untuk pemenuhan gizi daripada keinginan untuk memakan makanan pedas. Ini memang masalah prioritas sih ya..

Menghadapi harga-harga barang yang beranjak naik, mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari nasehat di link berikut :
http://www.konsultasisyariah.com/nasehat-ketika-terjadi-kenaikan-harga-barang/

Di sini, saya akan mengutip dua hadits dari link di atas:
Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan masalahnya. Mereka mengatakan,
يا رسول الله غلا السعر فسعر لنا
“Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.”
Mendengar aduhan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
إن الله هو المسعر القابض الباسط الرازق وإني لآرجو أن ألقى الله وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة في دم أو مال
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.” (HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Turmudzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)

Selain tawakal dan berusaha mencari rezeki, mungkin perlu dilakukan upaya-upaya penghematan, antara lain:

Hemat air
Di antara yang dicontohkan nabi adalah menghemat air untuk mandi dan berwudhu.
https://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/09/24/kadar-air-yang-dipakai-mandi-oleh-rasulullah/

Hemat energi
Di antaranya dengan mematikan lampu sebelum tidur
“Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari)
Selain itu, bisa juga mengurangi energi untuk memanaskan air untuk mandi karena mandi dengan air dingin itu banyak manfaatnya:
http://health.kompas.com/read/2012/04/17/0823266/Inilah.7.Manfaat.Mandi.Air.Dingin

Berhenti merokok
Untuk bapak-bapak yang mengeluhkan tidak ada biaya untuk makan dan pendidikan anak tapi sanggup merokok sebungkus sehari, sebaiknya bertanya kepada diri sendiri: Mana yang lebih penting, anak atau rokok?
Belum lagi resiko kesehatan akibat merokok yang bukan hanya mengancam perokok tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang (ngakunya) si perokok sayangi tetapi (nyatanya) terus menerus dia racuni tanpa merasa berdosa.

Membiasakan diri dengan variasi makanan, tidak tergantung dengan jenis makanan tertentu.
Yang namanya makanan segar hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan itu produksinya tidak tetap sepanjang tahun. Banyak hal yang bisa mempengaruhi, misalnya cuaca, hama penyakit, dll. Kalau produksi turun sedangkan permintaan tetap, ya wajar saja harga naik. Kalau kita bisa mensubtitusinya dengan pilihan yang lebih murah, kenapa tidak?

Memperbanyak olah raga, misalnya jalan kaki, jogging, lari marathon, bersepeda, dll sekalian menghemat pengeluaran untuk ongkos angkot atau beli bensin.

Apa lagi ya? Saya rasa banyak langkah-langkah lainnya yang bisa kita lakukan tetapi untuk kali ini sampai di sini saja dulu karena saya sudah mengantuk.

Sekian dan terimakasih

Posted in opini | Tagged , | Leave a comment

Metoda Memahami Al Qur’an

Bismillahirrahmanirrahiim,

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi mengenai ‘Metoda Memahami Al Qur’an’ berdasarkan poin-poin diberikan Pak Yusrizal Efendi, S.Ag, M.Ag pada tanggal 27 Januari 2012 di Kampus STAIDA Payakumbuh.

Apakah fungsi Al Qur’an?

Q2: 185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….

Walaupun diturunkan dalam bahasa Arab, bukan berarti Al Qur’an hanya untuk orang Arab saja. Al Qur’an diturunkan kepada umat manusia seluruhnya, apa pun warna kulit dan bahasanya.

Q41: 44. Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.”

Untuk mendapatkan manfaat dari Al Qur’an, maka kita harus berusaha untuk memahaminya.

Ada beberapa perangkat yang bisa kita gunakan untuk membantu kita memahami Al Qur’an yaitu : tarjamah, tafsir dan takwil.

Menurut Dr. Shalah Abdul Fattah al Kholidiy, ada beberapa tahapan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, antara lain:

  1. Memperhatikan adab tilawah
  2. Membaca satu surat, satu juz atau satu ruku’ dengan pelan-pelan, khusyu’, tadabur dan penuh penghayatan. Janganlah hanya mementingkan target berapa banyak menyelesaikan bacaan Al Qur’an dalam satu hari.
  3. Memperhatikan dan merenungi tiap ayat yang dibaca, membacanya dengan penuh perasaan dan penghayatan serta mendengarkan bacaan orang. Semuanya dilakukan secara berulang-ulang/ terus menerus.
  4. Mempelajari secara rinci susunan kata dan konteks kalimat.
  5. Memahami korelasi ayat dengan kondisi sekarang (kontekstual)
  6. Merujuk kepada pemahaman para salafush-shalih, terutama pemahaman para sahabat.
  7. Demi aspek kesopanan dan aspek ilmiah, kita harus lebih mendahulukan pemahaman para sahabat untuk mencegah al Qur’an dipahami sesuai hawa nafsu.
  8. Mempelajari pendapat para ahli tafsir yang mempunyai bobot ilmiah.

Kunci-kunci memahami dan berinteraksi dengan al Qur’an

  1. Memahami al Qur’an sebagai kitab yang syamil (lengkap) mencakup seluruh kehidupan.
  2. Fokus pada tujuan utama Al Qur’an
  3. Memperhatikan sisi harakah dalam menegakkan da’wah, jihad dan hukum islam
  4. Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat yang sedang dibaca.
  5. Menjauhi bertele-tele yang bisa menghalangi cahaya Al Qur’an.
  6. Menjauhi cerita-cerita Israiliyat dan menjauhi dari mempermasalahkan ayat-ayat mutasyabihat
  7. Memasuki Al Qur’an dengan melepaskan asumsi-asumsi
  8. Percaya secara mutlak terhadap semua petunjuk, perintah, larangan dan berita yang diungkapkan dalam Al Qur’an.
  9. Memahami isyarat-isyarat dalam Al Qur’an
  10. Memiliki pemahaman bahwa 1 kata atau kalimat dalam Al Qur’an mempunyai beberapa pengertian
  11. Mempelajari realita sahabat dalam pengamalan Al Qur’an
  12. Memahami Al Qur’an tidak dibatasi dengan tempat dan zaman
  13. Memahami korelasi ayat-ayat Al Qur’an dengan realita yang ada sekarang
  14. Merasa bahwa ayat-ayat Al Qur’an ditujukan pada dirinya
  15. Mempelajari Al Qur’an dengan mazhab tahaqqi yang benar (berhadap-hadapan dengan guru yang sudah diverifikasi bacaannya)
  16. Menjauhkan diri dari perbedaan pendapat para ahli tafsir.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk saya pribadi dan para pembaca, aamiin.

Posted in Al Qur'an | Tagged , , | Leave a comment

Teroris

by Susan Fauzana on Wednesday, May 4, 2011 at 10:47am

Akhir-akhir ini, dunia dikejutkan dengan berita tewasnya Osama. Sebelumnya, saya tidak begitu ambil pusing mengenai tokoh ini, tapi melihat respon yang besar akibat kematiannya, saya mulai mencari tahu.

Dalam pengumpulan informasi, mengenai apakah sumber beritanya dapat dipercaya, apakah media dikuasai Yahudi dan Amerika, untuk sementara diabaikan. karena, saya bukanlah orang yang tertarik dengan teori konspirasi karena kebanyakan teori tersebut dibuat berdasarkan prasangka.

Dari informasi yang saya peroleh, walaupun awalnya tidak mengakui terlibat dalam serangan 9/11, tapi pada akhirnya osama mengaku bertanggungjawab sebagai orang yang mempunyai ide awal jauh sebelum kejadian. Sama halnya dengan peristiwa pengeboman di London dan Madrid, tidak ada keterlibatan langsung tetapi terlihat adanya persetujuan terhadap aksi tersebut dalam pernyataannya tahun 2009.

Saya bukan pendukung Amerika dan saya juga tidak membenarkan tindakan terorisme. Jika tentara Amerika, Inggris, Spanyol, dll membunuhi warga sipil, apakah tepat jika hal tersebut dibalas dengan membunuhi warga sipil lainnya? itu sama saja mereka bersama-sama, saling membantu untuk membunuhi warga sipil tidak berdosa. Perkelahian 2 setan tidak menjadikan salah satunya malaikat.

Ini mengingatkan saya pada peristiwa bom Bali. Cukup banyak dari masyarakat Muslim Indonesia yang menunjukkan simpati dan dukungan terhadap para pelaku yang telah mengakui perbuatannya dan tidak terlihat menyesali tindakannya. Bahkan, ada yang menganggap mereka syahid. Ada yang menyatakan bahwa di sana adalah tempat orang-orang melakukan dosa jadi mereka pantas di bom.

Dalam hukum islam, bahkan pelaku zina pun tidak bisa langsung dihukum tanpa adanya cukup saksi yang jujur (minimal 4 orang laki-laki) yang menyaksikan ketika terjadinya perzinaan. Hukuman untuk yang meminum minuman keras bukan dibom, tapi dipukuli atau dicambuk. Bahkan, nabi pernah melarang membunuh dengan cara membakar. Jadi, siapa yang menetapkan hukuman bom untuk orang-orang ‘berdosa’ tersebut? Yang jelas itu bukan hukuman yang sesuai syari’at. Jadi, membawa-bawa nama Islam dalam aksi ini merupakan fitnah dan tidak seharusnya ada umat muslim yang simpati dengan tindakan tersebut.

Ok, mungkin ada yang bilang konspirasi. Bom nya tidak seharusnya sebesar itu. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin itu benar, tetapi, dalam hukum Islam, satu kelompok orang yang berserikat untuk membunuh 1 orang saja sudah bisa dihukum mati. Mengenai siapa yang sebenarnya meletakan bom yang lebih besar, itulah yang harus diselidiki jika bom tersebut benar-benar ada.

Jadi, menurut saya, daripada terus-terusan menyalahkan pihak luar, kita juga perlu membersihkan keberadaan-keberadaan kelompok yang merusak islam dari dalam karena mereka salah menafsirkan ajaran islam. Bahkan, nabi pernah memerintahkan kita untuk membunuh khawarij yang mudah mengkafirkan dan menumpahkan darah walaupun penampilan luar mereka sangat shaleh, shalat, puasa dan bacaan qur’an mereka sangat bagus. Mereka sudah melesat jauh dari Islam seperti panah yang meninggalkan busur dan  kerusakan yang mereka timbulkan sangat besar di muka bumi.

Posted in opini | Leave a comment

Islam dan Adat Istiadat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat istiadat berarti tata kelakuan yg kekal dan turun-menurun dari generasi satu ke generasi lain sbg warisan sehingga kuat integrasinya dng pola perilaku masyarakat. Dengan keyakinan bahwa leluhur lebih tahu, kebiasaan tersebut terus diikuti dan dipegang kuat dalam masyarakat.

Ada kalanya kita temukan ketidaksesuaian antara adat dalam suatu masyarakat muslim dengan ajaran Islam. Ditambah lagi dengan adanya kebijakan pemerintah untuk melestarikan adat leluhur dalam rangka memperkaya budaya bangsa. Walaupun telah diberi ‘warna’ Islam, tetap saja keberadaannya dapat merusak aqidah umat Islam yang menjalankannya.

Saya tidak bermaksud menafikan sejarah peradaban suatu masyarakat. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang-orang terdahulu. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang dengan berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada sebelumnya. Dan, hikmah adalah milik umat Islam, kita bisa mengambilnya dari mana saja.

Q40: 82. Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. 83. Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

Q89: 6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? 7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, 8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, 9. dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, 10. dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), 11. yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, 12. lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, 13. karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, 14. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Yang perlu diingat adalah, bagaimanapun juga adat istiadat itu adalah buatan manusia.Jangan sampai hal itu menjadikan kita ingkar terhadap apa yang telah diturunkan Allah kepada rasul-Nya. Jadi, tidak seharusnyalah kita meneruskan kepercayaan dan ritual yang tidak ada hujahnya dalam agama Allah hanya demi menghidupkan budaya bangsa.

Q5: 104. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

Di antara praktek-praktek merusak yang berkembang di dalam masyarakat antara lain mengharamkan suatu rizki dari Allah, memberikan persembahan/ sesajen kepada makhluk halus, mengada-adakan suatu kepercayaan tentang hal-hal yang gaib, melakukan ritual untuk menghilangkan nasib buruk, dan lain-lain. Ada juga yang menetapkan aturan-aturan yang melarang wanita melakukan hal-hal yang tidak pernah dilarang di zaman Rasul dan Sahabat, dengan membatasi aktivitas wanita di bidang-bidang tertentu saja yang, sekali lagi, tidak pernah dilakukan oleh Rasul dan Sahabat. Adalah benar bahwa Islam mengangkat martabat wanita, tapi, di sebagian komunitas yang terlalu terpengaruh dengan adat istiadat, sebagian hak-hak tersebut terampas.

Q7: 28. Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Sebagai Muslim, kita seharusnya menjadikan Islam sebagaicara hidup. Rasulullah s.a.w telah mengajarkan kepada kita sampai hal-hal yang terkecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita bisa menghidupkan adat istiadat yang berpedoman kepada agama berdasarkan Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Q6: 153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Wallahu a’lam

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Dasar-dasar aqidah ahlussunah wal jama’ah

Dasar-dasar aqidah ahlussunah wal jama’ah

(Imam Ibnu Taimiyah)

Ibnu Taimiyah menjelaskan manhaj yang haq dalam aqidah yang sahih, yaitu dengan kembali kepada Al Quran dan sunah Rasul s.a.w. Dia berkata :”Inilah aqidah firqah najiyah atau golongan yang selamat sampai hari kiamat yaitu ahlul sunnah wal jama’ah: beriman kepada Allah, kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul-Nya, beriman kepada hari kebangkitan setelah mati dan kepada qadar bai dan buruk.”

Termasuk iman kepada Allah ialah beriman kepada sifat-sifat-Nya yang Dia sifatkan sendiri untuk diri-Nya dalam kitab-Nya dan yang disifatkan oleh Rasulullah s.a.w tanpa tahrif (mengubah lafadz sifat yang disebutkan Al Qur’an atau hadits, atau menyimpang dari makna sebenarnya), ta’thil (meniadakan seluruh atau sebagian sifat-sifat Allah yang telah Dia tetapkan) dan takyif (mempertanyakan bagaimana sifat Allah itu atau menggambarkannya) maupun tamtsil (menyamakan/ menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya). Mereka mengimani bahwa “Tak ada sesuatupun menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. Asy Syura:11)

Sunnah merupakan penafsiran dan penjelasan Al Qur’an. Dia menunjukkan kepadanya dan mengungkapkan tentangnya. Dan sifat-sifat Allah azza wa Jalla yang ditetapkan oleh Rasul untuk-Nya dalam hadits-haditsnya yang sahih yang diterima oleh para ulama, wajib kita imani sebagaimana adanya.

Di antara iman kepada Allah, para malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya ialah beriman bahwa Al Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan, bukan makhluk. Dari-Nya ia berasal dan kepada-Nya ia kembali dan bahwa Allah Taala berbicara dengan Al-Qur’an secara hakiki. Juga bahwa Al Qur’an yang Dia turunkan kepada Muhammad s.a.w ini adalah kalamullah secara hakiki, bukan ucapan dari selain Allah. Dan tidak boleh kita mengatakan bahwa Al Qur’an itu hikayat dari kalamullah atau ungkapan tentangnya. Bahkan jika manusia membacanya atau menulisnya di mushaf, hal itu tidak mengubahnya dari kedudukannya sebagai kalamullah secara hakiki, karena yang namanya kalam (ucapan) itu hanya disandarkan pertama-tama kepada si pengucap secara hakiki bukan kepada si penyampainya.

Al Qur’an adalah kalamullah, baik huruf-huruf maupun maknanya. Kalamullah bukan huruf saja tanpa makna atau makna semata tanpa huruf.

Di antara dasar-dasar ahli ssunah wal jama’ah ialah bahwa agama dan iman itu ucapan dan amal, yakni ucapan kalbu dan lisan dan amal kalbu, amal lisan, dan anggota badan dan bahwa iman bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan. Sekalipun demikian, ahlussunah tidak mengkafirkan ahli-qiblah karena semata-mata maksiat dan dosa besar yang dilakukannya seperti yang dinyatakan oleh kaum khawarij. Bahkan menurut ahlussunah, ukhuwah imaniyah tetap berlaku dengan merekasekalipun mereka bermaksiat, seperti difirmankan oleh Allah s.w.t dalam Q.S. Al Baqarah:178 dan Q.S. Al Hujurat:9-10.

Ahlussunah tidak menyatakan bahwa orang yang fasik dalam beragama sebagai orang yang tak beriman sama sekali. Juga tidak menyatakan ia akan kekal di neraka. Orang yang fasik tetap masuk ke dalam apa yang disebut iman sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An Nisa:92.

Ahlussunah wal jama’ah menamakan orang yang fasik seperti itu dengan penamaan Mukmin yang kurang imannya atau mukmin dengan imannya dan fasik dengan dosa besarnya. Jadi tidak memberikan sebutan yang sempurna dan tidak pula menghapuskan sebutan tersebut sama sekali.

Dan di antara dasar-dasar ahlussunah wal jama’ah adalah selamatnya hati dan lidah mereka dari mencaci-maki dan menghina sahabat Rasulullah s.a.w sebagaimana Allah telah mensifati mereka dalam firmannya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Al Hasyr:10).

Mereka menerima dan mengakui keutamaan dan kedudukan para sahabat sesuai dengan apa yang disebutkan Al Qur’an, Sunah, dan ijmak. Mereka mengutamakan sahabat yang berinfak dan yang berperang sebelum fathu Makkah, yaitu perdamaian Hudaibiyah, di atas orang yang berinak dan berperang setelahnya. Ahlussunah mengutamakan sahabat Muhajirin daripada sahabat Anshar. Mereka mengimani bahwa Allah telah berkata kepada peserta perang Badar yang berjumlah 317 orang: “Berbuatlah sesukamu, sesungguhnya Aku telah mengampunimu.” Dan bahwasanya tak akan masuk neraka seorang pun yang pernah bai’at kepada Rasulullah s.a.w di bawah sebatang pohon (Bai’atur Ridwan) sebagaimana diberitakan oleh Nabi s.a.w. Bahkan Allah telah meridhai mereka dan mereka pun meridhai Allah. Jumlah mereka lebih dari 1400 orang.

Ahlussunah juga memberi kesaksian dengan surga kepada orang yang dinyatakan oleh Rasul masuk surga seperti 10 sahabat mubasysyarun bil jannah (yang dijamin Rasul masuk surga), dan lain-lain.

Mereka mengakui berita (riwayat) yang mutawatir dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib r.a dan dari yang lainnya bahwa manusia terbaik dari umat ini setelah Rasulullah s.a.w. adalah Abu Bakar lalu Umar. Dan mereka menjadikan Usman sebagai yang ketiganya sedangkan Ali yang keempat sebagaimana ditunjukkan oleh banyak atsaar. Barangsiapa mencaci atau mencela kekhalifahan atau salah satu dari mereka, maka ia lebih sesat dari keledainya.

Mereka mencintai Ahli-bait Rasulullah dan mendukung serta memelihara wasiat Rasulullah tentang ahli bait beliau pada hari Ghadir Khum: Kuperingatkan kalian, takutlah kepada Allah dalam menyikapi ahli baitku. Kuperingatkan kalian, takutlah kepada Allah dalam menyikapi ahli baitku! (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah. Jalur-jalurnya dihimpun oleh Al Haitsami. Kata-kata: Kuperingatkan kalian, takutlah kepada Allah…dst tak ada kecuali pada Ibnu Abi Ashim)

Ahlussunah wal jama’ah juga mencintai para isteri Rasul sebagai ummahatul mukminin. Mereka mengimani bahwa isteri-isteri Rasul tersebut merupakan isteri-isteri Rasul di akhirat terutama Khadijah r.a., ibu dari kebanyakan putera-puteri beliau dan perempuan yang pertama kali beriman dan membela Rasul serta mendapat kedudukan yang tinggi di sampingnya.

Dan Ash Shidiqah (Aisyah s.a.) binti Abu Bakar Shiddiq r.a. yang dilukiskan Rasul s.a.w dalam haditsnya: “ Keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lain seperti bubur roti atas makanan lain.”(H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad).

Mereka bersih dari cara yang ditempuh kaum Rafidhah yang membenci dan mencaci maki para sahabat dan juga luput dari sikap golongan Nawasib yang menyakiti ahlul bait dengan ucapan dan perbuatan.

Ahlussunah wal jama’ah bersikap menahan diri dalam masalah-masalah yang diikhtilafkan para sahabat.

Para sahabat adalah orang-orang pilihan dari rangkaian kurun umat ini yang merupakan khaira ummah yang paling utama bagi Allah s.w.t.

Dan di antara dasar-dasar Ahlissunah wal jama’ah ialah mempercayai karamat para wali dan keistimewaan-keistimewaan yang Allah berikan kepada mereka dalam berbagai ilmu dan muskasyafah seperti yang datang dari umat terdahulu, misalnya ashabul kahfi, termasuk yang pernah terjadi pada kaum salaf yang terdiri dari para sahabat, tabi’in dan kurun-kurun lainnya sampai hari kiamat.

Dan di antara thariqah ahlissunah wal jama’ah ialah mengikuti jejak Rasulullah baik lahir maupun batin, mengikuti Assabiqunal awwalun (orang-orang yang terlebih dahulu masuk Islam) dari para Muhajirin dan Anshar dan mematuhi wasiat Rasulullah dalam sabdanya:

”Berpegang-teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat hidayah setelah aku. Peganglah erat-erat. Jauhilah olehmu perkara-perkara baru yang dibuat-buat karena setiap perkara baru yang dibuat-buat itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu dhalalah (sesat).”(H.R. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Mereka mengetahui bahwa ucapan yang paling benar itu kalamullah dan hidayah paling baik itu hidayah Muhammad Rasulullah dan mereka mendahulukan kalamullah daripada ucapan yang lainnya, sebagaimana mereka mengutamakan hidayah Muhammad s.a.w daripada hidayah setiap orang selainnya. Karena itulah mereka disebut Ahlul Kitab was Sunnah.

Mereka disebut Ahlul jama’ah karena jama’ah artinya berkumpul, lawan dari furqah (bercerai berai) sekaipun kata jama’ah tersebut telah menjadi nama bagi kaum yang berkumpul itu sendiri. Ijma’ merupakan dasar (pegangan) ketiga setelah Al Qur’an dan Sunnah dalam ilmu dan agama.

Dengan tiga dasar inilah mereka mengukur semua ucapan dan perbuatan manusia yang berkaitan dengan agama, baik lahir maupun bathin. Dan, ijma’ yang tetap dan paten adalah apa yang diijma’ dan disepakati oleh salafussaleh, karena setelah mereka terjadi banyak perselisihan dan pertentangan di samping umat sendiri pun tersebar banyak.

Ahlussunah wal jama’ah berada di tengah-tengah – yakni firqah Najiyah (golongan yang selamat) – di antara firqah-firqah umat sebagaimana umat ini juga berada di tengah-tengah di antara umat yang lain.

Ahlussunah wal jama’ah dengan dasar-dasar ini beramar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syariah dan mereka memandang perlu ditegakkannya haji dan jihad, shalat Jum’at dan ber’ied (hari raya) bersama para umara, baik umara yang baik maupun yang zhalim serta memelihara jama’ah.

Mereka bersikap setia dan tulus kepada umat dan meyakini makna hadits: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam berkasih-kasihan, dalam saling sayang-menyayangi dan mencintai adalah laksana satu tubuh , jika salah satu anggotanya sakit (mengeluh), maka seluruh tubuh merasa sakit dan tak dapat tidur.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad).

Mereka menyuruh sabar menghadapi bencana dan cobaan, bersyukur ketika mendapat nikmat dan ridha terhadap takdir buruk. Mereka menyuruh kepada akhlak karimah dan amal shaleh dan meyakini makna sabda Rasulullah s.a.w: “Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya.”(H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad).

Mereka menganjurkan menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskannya, memberi orang yang pelit dan memaafkan orang yang menzhalimi. Juga menyuruh berbakti kepada orang tua, berbuat baik terhadap tetangga, silaturahmi, berbuat ihsan kepada yatim, fakir miskin dan ibnu sabil, dan melarang bersikap membanggakan diri dan takabur, zhalim dan aniaya terhadap makhluk karena hak maupun tidak. Mereka menyuruh berakhlak luhur dan mencegah berakhlak rendah. Setiap ucapan dan perbuatan mereka mengikuti kitabullah dan sunnah.

{Disadur dari buku ‘Dasar-dasar Aqidah Para Imam Salaf (Ahlussunah Wal Jama’ah)’ yang ditulis oleh DR. Abdullah bin Abdul Muhsin Atturki}

Dari Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.”(H.R. Ahmad, Abu Hatim)

Dari Jundab bin Abdullah, katanya: “Aku mendengar Nabi s.a.w lima hari sebelum wafatnya bersabda: “Sungguh aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil; seandainya aku menjadikan khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu.” (H.R. Muslim)

Posted in Basic of Islam | 2 Comments